Artinya "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh (beda agama), dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya.
RasulullahSAW bersabda: " Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal perbuatan kalian." (HR. Muslim) Ayat inilah yang digunakan Rasulullah untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi. Dalam khutbah fathu Makkah, sebelum menyampaikan surat Al Hujurat ayat 13 ini beliau bersabda:
SAKINGpentingnya, Islam sudah membeberkan tentang beberapa ayat Al-Quran tentang musyawarah. Di kehidupan sehari-hari masyarakat terkadang selalu terjadi perbedaan pendapat atau sudut pandang dalam melihat sebuah persoalan. Bahkan, tak jarang juga kita jumpai perbedaan pendapat tersebut berujung dengan permusuhan.
Nafi menjawab, "Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris)." 'Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu 'alaihi wa sallam- telah bersabda, "Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya." (HR. Muslim no. 817).
Perbedaanini didasarkan pada perbedaan pandangan tentang maksud dua ayat, yaitu QS. Al-Baqarah/2: 234, tentang 'iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari; dan QS. Wahab Khallaf, hanya berkisar 5,8 % dari keseluruhan jumlah ayat Alquran, yaitu kurang lebih 360-an ayat sedangkan menurut sebagian ulama
Meskipunada 40 jenis cara membaca al-Quran, tapi yang dinilai layak hanya tujuh ini," ungkapnya. Ahsin mengisahkan, langgam bacaan al-Quran berasal dari Iran. Kala itu, orang Makkah dan Madinah sedang membersihkan Ka'bah. Di sana ada orang Farsi yang sedang melantunkan bacaan al-Quran dengan langgam nada lagu asal negerinya.
Ayatyang ketiga tentang toleransi adalah bahwa perbedaan pandangan adalah ciptaan Allah. Dan kita tidak ada hak untuk menyatukan satu pandangan saja. "Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya." (QS.
BacaJuga: Inilah Makna Kata al-Quran. Ketiga, Al-Qur'an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tidak diturunkan kepada orang lain, selain Nabi Muhammad. Keempat, Al-Qur'an itu seluruhnya dibawa turun dari Allah oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad saw, mulai ayat yang pertama turun hingga ayat yang terakhir. Baca Juga: 13 Ayat
Siswamengemukakan pendapat tentang perbedaan sifat Allah SWT dengan makhluk-Nya . Siswa mengartikan lima sifat wajib bagi Allah SWT secara klasikal, kelompok dan individu . 1. Gambar peraga tentang perilaku penyayang terhadap hewan 2. Cerita menarik yang berkaitan dengan bahan ajar 3. Ayat Alquran dan hadis yang berkaitan dengan perilaku
PenjelasanAyat. Qur'an Surat Yunus merupakan surat yang ke 10 terdiri atas 109 ayat, termasuk surat-surat Makiyyah kecuali ayat 40,94,95 yang diturunkan di Madinah. Dinamai "surat Yunus" karena dalam surat ini ditampilkan kisah Nabi Yunus a.s. dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya.
hBMj8. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah SubhÄnahu Wata’ÄlÄ Allah berfirman di dalam Al-Qur’an يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهَا النÙَاس٠إÙÙ†Ùَا ØÙŽÙ„َقْنَاكÙمْ Ù…Ùنْ ذَكَر٠وَأÙنْØÙŽÙ‰Ù° وَجَعَلْنَاكÙمْ Ø´ÙØ¹Ùوبًا وَقَبَائÙÙ„ÙŽ Ù„ÙØªÙŽØ¹ÙŽØ§Ø±ÙŽÙÙوا Ø¥ÙÙ†ÙÙŽ أَكْرَمَكÙمْ عÙنْدَ اللÙَه٠أَتْقَاكÙمْ Ø¥ÙÙ†ÙÙŽ اللÙÙŽÙ‡ÙŽ عَلÙيمٌ ØÙŽØ¨Ùيرٌ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal QS. Al-HujarÄt 13 Ayat di atas menggambarkan tentang asal muasal kehidupan manusia yang majemuk sekaligus menetapkan hikmah kemajemukan tersebut. pada mulanya, manusia berawal dari satu bapak dan satu ibu, kemudian berkembang menjadi sebuah “jagad kemajemukan†dalam bentuk negara, suku, dan ras yang berbeda-beda. Sejatinya kemajemukan dalam hidup ini berjalan dengan semangat saling mengenal at-ta’Äruf, saling menghormati dan saling mengisi. Imam Ar-Razi dalam kitab tafsir MafÄtÄh Al-Gyahb mensinyalir bahwa, ayat di atas menegaskan agar manusia tidak saling meninggikan diri, sombong, dan membanggakan diri di hadapan manusia yang lain. Karena apa pun kondisinya, manusia tetaplah manusia. Mereka sama-sama berasal dari bapak dan ibu yang sama. Semangat inilah yang hendak disematkan oleh ayat di atas ke dalam kehidupan umat Islam. Itu sebabnya, ayat tersebut tidak menyapa manusia di dalam kubangan perbedaan-perbedaan yang ada. Justru yang digunakan adalah ungkapan, “wahai Dalam khazanah ilmu tafsir, “sapaan universal†seperti di atas wahai manusia menjadi ciri utama bagi ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di masa-masa awal kedatangan Islam, yakni di Mekah. Secara umum, ayat-ayat yang turun pada fase ini bertujuan untuk mengokohkan sisi kemanusiaan umat Islam sebagai dasar utama kehidupan mereka, sehingga umat Islam tidak terpecah-pecah oleh perbedaan yang bersifat niscaya. Perbedaan adalah sunnatullÄh dan keragaman merupakan kenyataan yang menunjukkan kebesaran Sang Khaliq. Allah menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Karena itu, keterbukaan, toleransi dan menghormati pihak lain yang berbeda dengan kita merupakan aspek penting dalam Islam. Saat ini sulit sekali menemukan suatu negara atau bangsa yang monolitik, alias satu ras, satu agama atau satu ideologi saja. Ketunggalan suatu negara dalam ras, suku dan agama semakin jarang terjadi karena mobilitas penduduk yang kian meningkat. Perpindahan penduduk dari satu negara ke negara yang lain baik karena alasan kerja profesional maupun alasan personal seperti pernikahan menunjukkan kecenderungan yang kian meningkat. Ini menyebabkan keragaman semakin tak terhindarkan. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah SubhÄnahu Wata’ÄlÄ Realitas kemajemukan ini mendapatkan apresiasi sedemikian rupa dalam Al-Qur’an. Kita sebagai umat Islam dituntun agar saling mengenal dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Hal ini ditandai dengan adanya seruan tegas dalam al-Quran agar orang beriman menghormati dan mengimani semua Nabi dan semua kitab suci yang diturunkan Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat An-NisÄ’ ayat 136 يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهَا الÙَذÙينَ آمَنÙوا آمÙÙ†Ùوا Ø¨ÙØ§Ù„Ù„Ùَه٠وَرَسÙولÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù الÙَذÙÙŠ نَزÙÙŽÙ„ÙŽ عَلَىٰ رَسÙولÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù الÙَذÙÙŠ أَنْزَلَ Ù…Ùنْ قَبْل٠وَمَنْ يَكْÙÙØ±Ù’ Ø¨ÙØ§Ù„Ù„Ùَه٠وَمَلَائÙكَتÙÙ‡Ù ÙˆÙŽÙƒÙØªÙبÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ±ÙØ³ÙÙ„Ùه٠وَالْيَوْم٠الْآØÙر٠Ùَقَدْ ضَلÙÙŽ ضَلَالًا بَعÙيدًا Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu sangatlah sesat. QS. An-NisÄ’ 136. Itulah sebabnya, kaum muslimin menghormati seluruh Nabi hingga Nabi terakhir Muhammad SAW., baik Nabi-nabi yang disebut dalam Al-Qur’an ataupun yang tidak disebutkan. Dengan demikian dapat ditegaskan pula bahwa, keimanan seorang muslim tidak akan pernah sempurna kecuali mengakui dan mengimani Nabi-nabi terdahulu sekaligus mengimani kitab suci mereka. Karena sesungguhnya mereka tidak menjadi Nabi lantaran diangkat oleh umatnya atau diri sendiri, melainkan semata-mata karena pilihan dan ketetapan Allah subhÄnahu wata’Äla. Begitu pula dengan kitab suci yang dibawanya. Dalam salah satu Hadisnya, Nabi Muhammad SAW mengilustrasikan hubungan para Nabi sebagai sebuah bangunan yang megah dan indah. Namun ada satu batu bata dari bangunan itu yang bila tidak dipasang cukup mengganggu keindahan dan kekokohan bangunan tersebut. Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir adalah batu bata yang membuat bangunan itu semakin indah dan sempurna. إن٠مØÙ„ÙŠ ونØÙ„ الأنبياء من قلبي كمØÙ„ رجل بنى بنيانا ÙØ£ØØ³Ù†Ù‡ وأجمله، إلا موضع لبنة من زاويه من زواياه، ÙØ¬Ø¹Ù„ الناس ÙŠØÙˆÙون به، ويعجبون له، ويقولون هلا٠وضعت هذه اللبنة؟ قال ÙØ£Ù†Ø§ ØØ§ØªÙ… النبيÙين. Perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi terdahulu, yaitu seperti seorang membangun rumah, lalu menyempurnakan dan memperindahnya kecuali sebuah batu di bagian pojok rumah. Kemudian orang-orang mengelilingi dan mengagumi tempat tersebut. Mereka bertanya, “Kenapa batu ini tidak diletakkan?†Rasulullah SAW menjawab, “Aku adalah batu itu dan Aku adalah penutup para Hadis ini menunjukkan bahwa betapa Islam sangat menghargai agama-agama samawi yang sudah datang sebelumnya. Islam tidak menghapus ajaran agama sebelumnya, tetapi justru menyempurnakannya. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah SubhÄnahu Wata’ÄlÄ Harus jujur diakui, terdapat sekian banyak ajaran dalam Islam yang sebelumnya disyariatkan oleh Allah kepada agama-agama samawi yang diturunkan sebelum Islam, yakni Yahudi dan kristen. Di antara ajaran tersebut adalah ajaran tentang ketuhanan monoteisme, hukum qishash hukum pembalasan, dan lain sebagainya. Fakta di atas telah menjadi kesadaran ilmiah para ulama besar dalam Islam. Mereka tak hanya mengakui ajaran-ajaran tersebut, lebih daripada itu, mereka menjadikan fakta tersebut sebagai kaidah hukum. Dalam hukum Islam, kaidah ini dikenal dengan istilah, syar’u man qablana fahuwa syar’un lanÄ ajaran umat terdahulu juga menjadi ajaran bagi kita umat Islam. Patut disesali, karena ajaran Islam yang demikian indah tentang pengakuan terhadap keragaman, belakangan ini sepertinya mulai terabaikan. Ajaran yang demikian agung tentang penghargaan atas perbedaan sepertinya kian ditinggalkan. Kita melihat, bahwa perbedaan seringkali menjadi pemicu konflik. Sudah sedemikian sering kita menyaksikan perbedaan yang justru menimbulkan kekacauan dan konflik sosial dengan korban yang tidak sedikit. Jangankan dengan kelompok agama lain yang jelas-jelas berbeda, dengan sesama umat Islam sendiri bahkan berkonflik hanya karena adanya perbedaan-perbedaan yang sebetulnya sangat manusiawi. Padahal, manusia sudah dianugerahi keunikan masing-masing yang tidak mungkin sama antara yang satu dengan yang lain, baik dari segi bentuk fisik, sifat, karakter dasar hingga perbedaan perasaan, keinginan, harapan dan tentu saja kepentingan. Realitas perbedaan ini menyadarkan kita tentang indahnya bersama dalam keragaman. Sangatlah disayangkan bila hal ini justru seringkali memicu konflik. Bahkan, di antara umat Islam sendiri terjadi saling sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan yang kemudian berujung pada perusakan dan penghancuran. Sejatinya keragaman dan perbedaan adalah rahmat, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu Hadisnya. Adalah kesalahan kita sendiri bila keragaman dan perbedaan tidak mendatangkan rahmat. Hingga kita menyaksikan konflik berkepanjangan, bahkan diwarnai kekerasan. Sudah berapa banyak nyawa dan harta melayang karena manusia tidak menjalankan tuntunan Allah untuk menghormati perbedaan dan keragaman. Beberapa pihak mencoba mengatasi masalah tersebut. Namun usaha yang ada tidak membuahkan hasil maksimal karena masing-masing pihak merasa diri sendiri paling benar. Di internal umat Islam sendiri terjadi pengkotak-kotakan sedemikian rupa dan hampir tidak menemukan kata sepakat terkait dengan cara mengatasi perbedaan ini. Perbedaan dan keragaman bukannya disyukuri sebagai karunia dari Sang Maha Pemurah, tetapi justru dianggap sebagai ancaman yang dapat membahayakan. Pandangan seperti ini kemudian memaksakan kehendak melalui usaha-usaha penyeragaman. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah SubhÄnahu Wata’ÄlÄ Sekali lagi perlu ditegaskan, keragaman adalah sunnatullÄh. Allah menghendaki semua keragaman ini terjadi dalam kehidupan. Dan tidak akan ada satu orang pun yang mampu menolak atau menghindar dari kehendak-Nya. Dalam salah satu firman-Nya Allah menegaskan وَلَوْ شَاءَ اللÙَه٠لَجَعَلَهÙمْ Ø£ÙÙ…Ùَةً وَاØÙدَةً وَلَٰكÙنْ ÙŠÙØ¯Ù’ØÙل٠مَنْ يَشَاء٠ÙÙÙŠ رَØÙ’مَتÙه٠وَالظÙَالÙÙ…Ùونَ مَا Ù„ÙŽÙ‡Ùمْ Ù…Ùنْ ÙˆÙŽÙ„ÙÙŠÙ٠وَلَا نَصÙير٠Kalau saja Allah berkehendak, maka ia akan jadikan mereka satu umat saja, tetapi ada orang yang dikehendaki-Nya masuk dalam rahmat-Nya, sementara orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun atau seorang penolong QS. Asy-SyÅra 8 Kita perlu bersikap arif dalam menghadapi perbedaan dan keragaman, bukan semata-mata karena kehidupan ini penuh dengan keragaman, tetapi juga karena manusia tidak bisa lagi hidup sendiri di jagat raya ini; semuanya saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Salah satu kemajuan penting abad dua puluh satu ini adalah kenyataan bahwa seluruh negara telah menjadi dekat dan bertetangga berkat kemajuan tekhnologi informasi yang semakin mengglobal. Jika masalah keragaman tidak ditangani dengan serius di tengah gegap gempita pertemuan berbagai kebudayaan dalam peradaban global, maka perang peradaban bisa semakin dekat dengan kenyataan. Realitas keragaman tentu tidak bisa dibiarkan apa adanya tanpa ada usaha mengembangkannya dalam suatu harmoni sosial. Sebab, jika tidak dikelola dengan baik, maka perbedaan dalam keragaman dapat menjadi bibit-bibit konflik. Perbedaan budaya, bahasa, asal-usul, etnis, dan keyakinan memang tidak pernah betul-betul menjadi pemicu konflik. Tapi perbedaan dan keragaman seperti itu bisa menjadi kendaraan efektif bagi berbagai kepentingan yang dengan mudah menumpanginya. Pada awalnya mungkin perbedaan tidak menjadi masalah, tapi tatkala kepentingan masuk ke dalamnya, maka perbedaan yang sebelumnya berupa rahmat bisa dengan cepat berubah menjadi laknat. Karena itu, dibutuhkan sikap yang lebih menghargai perbedaan dan keragaman. Sikap yang tidak hanya mengakui adanya kelompok lain, tetapi juga memberi perlindungan terhadap kelompok lain yang terancam. Sebuah sikap pro-aktif untuk menjaga harmoni sosial dalam realitas yang beragam. Jika kita gagal menjalankan sikap ini, maka yang paling terancam sebetulnya adalah umat beragama itu sendiri. Sebab, jika satu kelompok agama terus hidup dalam komunitasnya sendiri sambil bersikap curiga dan menganggap kelompok agama lain sebagai musuh, maka yang akan terjadi adalah perang agama. Itulah sebabnya, kebenaran agama tidak cukup ditunjukkan hanya dengan ajaran yang terdapat dalam kitab suci, tetapi juga harus dibuktikan dengan keterlibatan agama itu sendiri untuk turut menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan yang kian hari kian kompleks. Penyelesaian problem kemanusiaan yang kian kompleks tentu tidak mungkin diserahkan hanya kepada satu komunitas agama. Dalam konteks seperti ini, sejatinya kaum beriman sudah melampaui dialog dengan melakukan aksi nyata secara bersama-sama dalam rangka menanggulangi berbagai bentuk problem kemanusiaan. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah SubhÄnahu Wata’ÄlÄ Sebagai sunnatullah, tentu saja perbedaan memerlukan etika atau akhlak. Sebab, jika perbedaan dibiarkan tanpa akhlak, maka sangat mungkin perbedaan itu berubah dari rahmat menjadi laknat. Sudah menjadi tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk memelihara dan melestarikan pesan moral dari Hadis yang menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat. Karena sebagai kehendak Allah, tentu saja perbedaan dan keragaman mempunyai tujuan agung. Allah SWT mencipatakan bumi dan langit dan seluruh isinya tidak sia-sia. Selalu ada tujuan dalam menciptakan makhluk-Nya. Salah satu tujuan diciptakannya keragaman adalah agar manusia saling kenal dan saling tolong-menolong, sebagaimana diamanahkan dalam surat Al-HujarÄt di awal khutbah ini. Karena itu, di penghujung khutbah ini, marilah kita kembali kepada prinsip dasar yang menjadi landasan kehidupan bersama, yakni tentang pesan moral dari tujuan diciptakannya keragaman. Allah SWT menciptakan perbedaan bukan untuk saling bermusuhan, tetapi justru untuk saling mengenal, belajar satu sama lain dan tolong menolong dalam kebaikan. Hanya dengan tolong menolong, kita bisa memperbaiki kualitas hidup. Dan hanya dengan tolong menolong dalam kebaikan kita dapat membantu lahirnya generasi masa depan yang lebih berkualitas. بارك اللÙÙ‡ لي ولكم ÙÙŠ القرآن العظيم ÙˆÙ†ÙØ¹Ù†ÙŠ ÙˆØ¥ÙŠÙØ§ÙƒÙ… بما Ùيه من الآيات والذÙكر الØÙƒÙŠÙ… وتقبÙÙ„ منÙÙŠ ومنكم تلاوته إنÙÙ‡ هو السÙميع العليم.
PengantarBenarkah ada versi alquran? Kalau benar, apa saja perbedaannya? Apakah perbedaan ini menghasilkan makna yang berbeda? Apa itu qiraat? Artikel ini menjelaskan suatu hal yang tidak diketahui oleh banyak umat islam dan memberikan penenangan bagi mereka yang mau feature image BasmallahBismillaahir Rahmaanir RahiimAlhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnyaAssalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Pendahuluan Satu fakta yang tidak diketahui kebanyakan muslim adalah bahwa alquran itu memiliki banyak versi seperti injil yang isinya berbeda, tapi versi dalam artian perbedaan jumlah ayat atau bunyi begitu, hal ini tidak membawa perbedaan dalam pesan ayat diibaratkan ini mirip dengan buku berupa tulisan dan tetap sama, tetapi berbeda cara ini pun sebenarnya dibenarkan oleh sumber paling utama yaitu nabi muhammad saw sebagai penerima Islam secara mayoritas biasanya tidak sadar mengenai perbedaan karena perbedaan yang ada ini hanya akan dirasakan oleh segelintir umat islam mayoritas umat islam hampir pasti tidak akan pernah merasakan perbedaan ini sama sekali, karena mereka selalu menggunakan versi alquran yang tempat tinggal umat islam yang “alqurannya berbeda” ini biasanya berada di afrika utara, seperti libya, maroko, aljazair dsb. Ada juga yang berada di afrika tengah dan sebagian kecil timur muslim yang tidak tinggal di negara-negara itu, hampir pasti tidak akan pernah bertemu dengan versi alquran lainnya ada yang bertanya, versi mana yang paling benar? Insya Allah jawabannya adalah versi mayoritas hafs memiliki kelebihan dalam utak atik matematika alquran, seperti perhitungan jumlah huruf di suatu ayat versi hafs yang bisa menghasilkan kesetimbangan dan ketepatan matematis, bukan versi diketahui juga, pengetahuan terhadap keterjagaan alquran di sini tidaklah begitu diperlukan dalam pengkaji alquran sebenarnya cukup menggunakan postulat keterjagaan sisi seorang muslim, ini juga bagian keimanan, sama seperti keimanan kepada hal-hal tentu saja adanya pengetahuan akan jauh lebih membawa kebaikan daripada ketiadaan pengetahuan mengenai keterjagaan alquranKegunaan utama jelas adalah seorang muslim yang memiliki pengetahuan ini tidak akan mudah dipengaruhi oleh propaganda anti memahami bahwa keterjagaan alquran bersifat obyektif, maka keimanan seseorang akan semakin ini juga semakin meneguhkan sifat keobyektifan dan kekonsistenan agama islam, suatu semangat dasar akhirnya, mengetahui hal ini juga akan membantu dalam menahan munculnya sikap mengetahui dinamika tersebarnya umat islam, seorang muslim tidak akan bersikap sok benar, merasa ahli surga karena untuk hal-hal yang bisa dikatakan primer, yaitu keterjagaan alquran, ada perbedaan di kalangan umat islam yang mutlak harus ditoleransi dan sini, semangat yang sama, juga haruslah lebih diterima lagi untuk hal-hal yang ini tentu saja selama tidak ada yang membawa keburukan, baik terhadap penyerahan diri kepada Allah atau akhirnya, kalau suatu paham membawa keburukan maka jelas mutlak harus mengenai perbedaan versi alquranPerbedaan versi alquran utamanya terkait dengan dua adalah perbedaan jumlah ayat. Situasi ini terjadi akibat perbedaan tanda berhenti penanda ayat, yang berefek pada perbedaan jumlah adalah perbedaan bacaan alquran, kata yang digunakan, dan kadangkala juga sedikit makna. Situasi ini terjadi akibat perbedaan dialek bahasa arab yang digunakan. Meskipun begitu, hal ini tidak akan mengakibatkan perbedaan makna atau pesan yang disampaikan oleh suatu ayat diketahui, perbedaan ini tidak ada hubungannya dengan hadits mengenai tujuh catatan sejarah, khalifah utsman ra sudah membakar semua arhuf selain arhuf quraisi. Dari sini, hadits tujuh arhuf tidak memiliki kegunaan lagi, karena sejak masa utsman ra sudah tersisa satu yang tersisa adalah metode perbacaan atau setelah utsman ra memusnahkan semua arhuf dan menyisakan satu saja, dirinya memberikan salinan alquran kepada umat islam di daerah berbeda. Tiap alquran itu dibaca secara berbeda oleh masing-masing masyarakat di tempat yang berbeda, akibat perbedaan dialek, logat ini seperti orang yang menuliskan surat dalam bahasa inggris, dan kemudian memberikan surat tersebut kepada orang-orang yang berbahasa inggris, tapi di daerah berbeda, seperti amerika, kanada, inggris dsb. Di sini semua surat tersebut, meskipun memiliki isi sama, tapi bunyi/suara pembacaan akan diketahui, perbedaan ini sebenarnya diajarkan oleh rasulullah karena ketika beliau mengajarkan islam kepada masyarakat yang berbeda kabilah/suku dengan dirinya, beliau menyesuaikan pembacaan alquran agar lebih sesuai dan mudah untuk lidah perbedaan ini diakibatkan oleh syiar qiraatUntuk diketahui, pada masa penulisan awal alquran, ayat alquran tidak memiliki tanda harakat, tanda titik islam pada masa itu, sebagian besar arab, sudah bisa memasukkan semua tanda tersebut ke dalam huruf arab lambat laun, islam berkembang dan tidak semua muslim baru adalah orang arab yang bisa membaca arab gundul tanpa harakat atau sinilah dilaksanakan penulisan alquran dengan harakat, tanda titik dsb. Penulisan ini disebut qiraat bisa dianggap sebagai ilmu untuk membantu orang non arab dalam membaca tulisan alquran masa awal, dengan memberikan tanda harakat, tanda titik alquran dengan harakat huruf vokal dilakukan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat. Karena alquran sebelumnya sudah dibaca secara berbeda, oleh masyarakat yang berbeda, maka dari sinilah muncullah berbagai macam qiraat ini seperti penulisan logat/dialek secara resmi. Semua qiraat yang dibuat adalah qiraat yang sudah disepakati dan ditelusuri memiliki riwayat pengajaran kepada nabi muhammad semua qiraat sebenarnya adalah alquran yang sama, yang sama-sama diajarkan rasulullah apabila ada perbedaan pada pembacaan alquran, atau alquran yang dianggap berbeda dsb, sebenarnya itu hanyalah perbedaan qiraat, yang tidak menghasilkan perbedaan pada pesan/makna qiraatContoh paling gampang adalah kata Allah. Ada alquran dimana kata Allah itu vokal keduanya panjang Allaah dan ada juga yang pendek Allah.Biasanya kalau di indonesia yang dipakai adalah versi panjang, sedangkan versi pendek biasanya terbitan luar negeri. Keduanya sama saja maknanya dan merujuk pada Zat yang kadangkala dalam bahasa arab, perbedaan panjang pendek suatu vokal bisa menghasilkan makna yang jauh berbeda, sebagai contoh kata “la” pendek dan “laa” panjang. Tapi dalam situasi ini tidak demikian adanya. Untuk contoh-contoh lain bisa anda lihat di video ini. Apabila anda perhatikan, qiraat di sana, utamanya hanyalah perbedaan tanda harakat, dari yang “alaihim” menjadi “alaihum” dsb. Ini karena alquran utsmani tidak disebarkan dengan tanda harakat, masyarakat arab di daerah yang mengisi vokal harakat itu sesuai logat/dialek/kebiasaan qiraat dan ahrufApa Yang Dimaksud Dengan Ilmu Qiraat?Sekilas perkembangan huruf arabGaris hitam adalah rasm, yang sudah ada sebelum masa islam. Titik merah ijam, syakal adalah penanda titik untuk membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip. Garis biru adalah harakat sebagai bunyi vokalGambar di atas adalah bentuk tulisan arab tulisan arab ketika utsman menyebarkan salinan alquran, hanya berupa huruf-huruf konsonan yang berwarna hitam. Pada waktu itu belum ada tanda titik yang berwarna merah ijam dan juga tanda vokal harakat yang berwarna penutur arab sendiri yang harus mengisinya sesuai logat, kebiasaan dilihat juga, tanpa ada ada tanda titik merah, sulit bagi yang tidak bisa berbahasa arab untuk membedakan apakah akhir ayat tersebut harus berakhiran “nun” atau “ba” atau “ta” setelah islam berkembang, muncullah tanda merah untuk membantu muslim non arab yang tidak bisa membedakan huruf-huruf arab tersebut dalam membaca alquran. Sekaligus tanda biru untuk mereka yang tidak bisa memberikan harakat sendiri ilmu nahwu sharaf.Jadi warna merah ijam, syakal dan biru harakat sebenarnya adalah perkembangan bahasa arab untuk mempermudah non arab dalam membaca tulisan alquran arab. Pada masa sekarang juga, tulisan bahasa arab biasanya tidak memiliki tanda harakat biru, tapi tanda ijam merah biasanya tetap harakat biasanya hanya dipakai untuk menulis bacaan alquran seperti “alaihim” dan “alaihum” adalah perbedaan dalam mengisi warna perbedaan lainnya, huruf yang digunakan, terjadi dalam mengisi titik warna begitu, perbedaan huruf ini tidak menimbulkan perbedaan dalam pesan alquran dalam jumlah ayatPerbedaan paling jelas dalam qiraat adalah perbedaan jumlah ini perlu dipahami bagaimana pembentukan ayat oleh para ketahui bersama bahwa alquran diturunkan dalam bentuk suara yang didengar oleh rasulullah beliau menerima wahyu, beliau kemudian melafalkannya kepada para ini, barulah para sahabat menuliskan pelafalan itu ke dalam bentuk tulisan sahabat mengenai alquran ini diberikan penanda ketika rasulullah saw berhenti sejenak dalam pelafalan alquran beliau. Penanda tersebut biasanya menandakan ayat, tapi tidak dikarenakan suatu waktu rasulullah saw berhenti cukup panjang, sehingga tidak ada keraguan bahwa itu adalah berhenti karena ayat. Tapi dalam waktu lain, beliau sering juga hanya berhenti sebentar, dan kadangkala juga tidak berhenti sinilah, penulisan tanda berhenti tidaklah mutlak, yang menyebabkan penanda ayat sering tidak disepakati secara utsman ra menyebarkan mushaf ke daerah umat islam, untuk diingat lagi, bentuk arabnya adalah gundul, yang sangat sederhana, yang tidak ada tanda titik ada tanda berhenti, tapi tanda berhenti ini tidaklah mutlak menandakan ayat, karena banyak juga yang hanya jeda pendek mengambil nafas dsb. Masyarakat suatu daerah yang kemudian membacanya dan menganggapnya berhenti panjang sebagai ayat, atau sekedar berhenti pendek mengambil nafas, berhenti panjang tapi bisa dilanjutkan dsb, sesuai kebiasaan sini terjadi pembedaan antara satu daerah dan daerah lain dalam kaitannya dengan pembacaan tanda berhenti di dalam dilakukan pembentukan qiraat, permasalahan tanda berhenti ini diperbaiki secara waktu yang lama dianggap sebagai penanda akhir ayat. Tapi kadangkala untuk ayat yang sama, rasulullah kadangkala melafalkannya dengan penyambungan, ini sebabnya ada tanda dilarang berhenti LamAlif di akhir ayat, sebagai penanda meskipun akhir ayat dapat dibaca bersambung sinilah jumlah ayat untuk tiap qiraat menjadi versi tanda berhenti ayatContohnya adalah surat versi alquran versi normal di indonesia dimana alfatihah dimulai dari basmallah dan ayat ke-7 tergolong ada juga versi alquran lain diberi nama versi asing dimana alfatihah dimulai dari alhamdulillah dan ayat ke-7 versi normal terbagi dua, dimana ayat ke-6 diakhiri “alaihim”, dan ayat ke-7 dimulai dari kata “ghairi”.Jadi perbedaan diantara dua versi tersebut sebenarnya hanyalah perbedaan tanda berhenti yang dianggap sebagai ayat saja. Tapi secara keseluruhan tidak ada alquran dimana misalkan ayat ke-7 surat al-fatihah nyasar misalkan ke surat isi alquran, huruf-hurufnya secara berurutan, semua isinya cenderung selalu sama lagi-lagi ada perbedaan qiraat yang menyebabkan perbedaan huruf, bukan hanya harakat.Kalau ada perbedaan, maka itu terletak pada tempat berhenti penanda ayat, yang menyebabkan beberapa surat di alquran versi A memiliki perbedaan ayat daripada alquran versi B sebabnya ada banyak versi jumlah ayat alquran, ada yang bilang 6236, 6214, 6616 apabila isi dari semua alquran itu diperbandingkan, maka isinya selalu cenderung sama, secara urutan kata, dari al-fatihah sampai alquran dalam bunyi bacaanSelain perbedaan harakat dan tanda berhenti, yang menyebabkan perbedaan jumlah ayat, perbedaan lain adalah perbedaan huruf yang dipakai, yang berarti adalah perbedaan makna sebenarnya memang benar kalau dikatakan ada versi alquran dalam artian ada sebagian kata yang dipakai meskipun begitu semua alquran tersebut selalu memiliki makna/pesan yang sini kita akan menggunakan contoh alquran hafs umum dipakai di dunia dan warsh biasanya di afrika utara.Contoh ayat 285Salah satu perbedaan alquran hafs dan warsh adalah perbedaan di akhir ayat 2 kamu Bani Israel membunuh dirimu saudaramu sebangsa dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya. kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu juga terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab Taurat dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu/mereka 285Perhatikan kata yang dicetak tebal kamu dan meraka. Alquran hafs menggunakan redaksi “kamu perbuat” ta’maluun, dan warsh menggunakan redaksi “mereka perbuat” ya’maluun.Bagi orang yang tidak mengerti, atau memang berusaha mendiskreditkan alquran, maka perbedaan ini jelas adalah perbedaan apabila dikaji secara mendalam, sebenarnya tidaklah demikian karena kedua jenis kata itu, kata “kamu” atau “mereka”, semua tetap merujuk pada pihak yang sama yaitu bani versi hafs, seperti tidak ada jeda dengan kalimat sebelumnya. Jadi seorang pembaca alquran akan bisa menyimpulkan bahwa “kamu” merujuk sama dengan “kamu” di bagian depan ayat, yaitu bani pada versi warsh, kalimat ini seperti terpisah, dan terjeda, dan alquran seperti menutup ayat dengan berbicara kepada pembacanya. Akibatnya, di sini alquran tidak menggunakan redaksi “kamu”, tetapi “mereka” untuk tetap merujuk kepada bani kedua versi tersebut, hafs atau warsh, semuanya memiliki makna dan pesan sama, yaitu Allah SWT tidak lengah terhadap apa yang bani israil kamu/mereka memang harus diakui, ini adalah kata yang berbeda, tetapi merujuk pada suatu hal yang sama, dan pada akhirnya pesan ayat yang juga muasal perbedaan ini Seperti sudah dijelaskan, ketika mushaf utsman ra disebarkan, tulisan arab masih berupa tulisan arab gundul, yang tidak memiliki tanda titik sini, sebenarnya pada waktu itu, tidak ada mekanisme sama sekali untuk membedakan huruf-huruf arab yang memiliki bentuk depan atau tengah atau belakang sama. Contoh huruf semacam ini adalah huruf “ya” dua titik dibawah, “ta” dua titik di atas, “ba” satu titik di bawah, “nun” satu titik di atas, tsa tiga titik di atas.Semua huruf tersebut tidak bisa dibedakan, dan hanya kebiasaan serta pengetahuan orang arab terhadap bahasa arab yang membuat mereka bisa kebiasaan serta pengetahuan ini juga terpengaruh dari logat, dialek sinilah, tidak semua masyarakat akan membaca suatu bentuk depan sebagai “ya”, sebagian lain akan membacanya sebagai “ta”. Inilah sebabnya bisa muncul perbedaan “ya’maluun” dan “ta’ ada perbedaan lain lagiSelain dari semua perbedaan di atas, perbedaan harakat, perbedaan terhadap jumlah ayat, dan perbedaan terhadap huruf-huruf yang bentuknya sama yang ada tanda titiknya, yang semuanya diakibatkan qiraat, tidak ada lagi perbedaan di antara semua alquran yang beredar di kalau ada yang mengklaim ada perbedaan dalam bentuk partikel seperti “dan wawu” yang hilang, atau ada kata yang hilang, atau ayat yang hilang, maka hal itu tidak usah bukti terhadap perbedaan semacam itu tidak ada yang bersifat obyektif, dan hanya klaim sepihak dari mereka yang tidak ingin mengakui kesempurnaan bagi TIAPerbedaan dalam “versi” alquran ini bagi kelompok konvensional jelas tidak akan terasa membawa jauh adalah paksaan untuk menumbuhkan sikap bertoleransi sesama umat bagi pengkaji alquran dengan TIA, perbedaan ini memiliki manfaat yang sangat adanya versi alquran ini, tapi semuanya selalu berpijak pada aturan bahwa alquran terjaga dan selalu benar, maka ini memberikan pengkaji alquran dengan TIA tambahan data untuk memahami suatu ayat dengan lebih baik contoh adalah di ayat 285 alquran, anggap saja menggunakan versi hafs, juga tidak bisa berbahasa arab, bisa saja memaknai kata “kamu” bukan merujuk kepada bani israil, tetapi pembaca saja ini utamanya terjadi karena ketidaktelitian, karena kalau menggunakan aturan kuanta, maka makna kata “kamu” bisa merujuk pada bani israil atau pembaca sini haruslah dilakukan analisa dengan lebih mendalam lagi, dan hampir bisa dipastikan jawabannya adalah bani israil karena penggunaan tanda berhenti ilmu tajwid, dimana yang status berhenti di situ kurang apabila dikaji juga dengan versi warsh, seorang pengkaji alquran tidak perlu memikirkan kembali apakah kata “kamu” merujuk kepada pembaca alquran atau bani israil, ini karena jawabannya sangatlah jelas yaitu bani sini, versi alquran yang berbeda justru membantu dalam memahami alquran dengan lebih baik, mencegah terjadinya kesalahan pemahaman atau Tafsir Ilmiah AlquranPenutupMeskipun tidak semua alquran yang beredar di dunia sama persis, situasi ini bukan sesuatu yang perlu karena semuanya selalu memiliki kesamaan terhadap makna/pesan yang ini juga seharusnya memberikan pelajaran kepada umat islam untuk harus selalu bertoleransi terhadap kegiatan keagamaan yang akhirnya, fungsi utama alquran bukanlah sekedar bahan bacaan belaka. Tetapi sebagai pedoman, petunjuk yang lengkap dan terperinci untuk umat Laam Raa, inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,QS 111Wallaahu a’lam bish-shawaabdan Hanya Allah SWT yang Maha MengetahuiWassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhAnda merasa tulisan ini bermanfaat?Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannyaTerima kasihBacaan lainDaftar perbedaan qiraat harf dan warsh
Allah SWT telah menciptakan manusia dan menurunkannya ke muka bumi dengan berbagai keragaman di dalamnya. Tak hanya manusia saja yang Allah ciptakan dan turunkan di muka bumi ini, terdapat pula makhluk-makhluk lainnya yang juga tidak seragam. Contohnya seperti siang dan malam, bulan dan bintang serta hewan dan tumbuhan. Dengan beragamnya makhluk hidup yang diciptakan Allah SWT, diharapkan umat manusia dapat memiliki toleransi akan perbedaan tersebut dan menciptakan perdamaian di bumi. Perintah perdamaian itu sendiri tertuang langsung di dalam Al-Quran. Berikut ini penjalasan tentang beberapa ayat Al-Quran tentang Budaya perdamaian dalam berperangIlustrasi Perdamaian Jonathan Meyer/PexelsAllah berfirman surat An Anfal Ayat 61۞ وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ wa in janaḥụ lis-salmi fajnaḥ lahā wa tawakkal 'alallāh, innahụ huwas-samī'ul-'alīmArtinya“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”Ayat di atas merupakan penjelasan bahwa agama islam sangat menjunjung tinggi perdamaian dan diplomasi. Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya yang mana membahas tentang hubungan perjanjian dengan musuh dalam sebuah Perdamaian antar umat beragamaSumber Gambar berfirman surat Al Baqarah ayat 256لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ lā ikrāha fid-dīn, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur biṭ-ṭāgụti wa yu`mim billāhi fa qadistamsaka bil-'urwatil-wuṡqā lanfiṣāma lahā, wallāhu samī'un 'alīm Artinya“Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”Ayat ini menjelaskan bahwa tidak adanya paksaan untuk dapat memasuki agama Islam. Islam disebarkan tidak dengan menggunakan pemaksaan, namun memberikan argumen atau penjelasan yang valid. Sehingga, orang-orang yang mendengarkan dakwah dapat menerima dengan hati terbuka tanpa adanya keterpaksaan. Agama Islam adalah agama yang sempurna, agama yang menjadi jalan keluar dari berbagai kesulitan dalam kehidupan ini. Tentu saja agama Islam ini juga menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam. Baca Juga Saling Toleransi, Persahabatan Tak Terhalang Perbedaan Agama 3. Kesamaan derajat manusia Allah berfirman surat Al Hujurat ayat 13يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīrArtinya“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”Ayat ini menjelaskan tentang prinsip dasar hubungan manusia dan menegaskan serta menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan antar umat manusia. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak merasa bangga atau sombong kepada makhluk lainnya. Tidak ada perbedaan nilai kemanusiaan antara lelaki dan pembahasan mengenai ayat Al-Quran tentang perdamaian. Semoga dengan membacanya, kita dapat menciptakan kedamaian bagi seluruh umat manusia. Amin.