Berikutini akan diberikan contoh perumusan hipotesis tindakan dari sebuat judul PTK tentang "Upaya Meningkatkan rendahnya hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran remedial pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Teluk Keramat Kabupaten Sambas tahun 2015".
PernyataanPardjono tersebut juga di dukung oleh Suhardjono (2012:58), yang menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (Action Research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas, bukan
Babi pendahuluan latar belakang penelitian masalah dan pembatasan penelitian tujuan, kegunaan, dan prospek penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah analisis semiotika john fiske. Contoh ppt untuk sidang tesis skripsi disertasi untuk mendapatkan filenya klik link berikut: 2018617 contoh ppt
BabI. Pendahuluan. Bab pendahuluan dalam laporan PTK minimal terdiri dari empat subbab, yakni latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Masalah. Seperti pada proposal PTK, subbab ini pada dasarnya berisi tiga aspek utama.
1 Menyusun rancangan berupa Rencana pelaksanaan Pembelajaran, hal ini meliputi : standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, tujuan pembelajaran, materi, pendekatan dan metode, langkah-langkah pembelajaran, media, dan evaluasi. 2) Menyusun sarana dan prasarana yang dibutukan dalam penggunaan media audio visual.
Dalammenentukan judul PTK ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan, yaitu: judul Penelitian Tindakan Kelas harus memuat masalah dan tindakan untuk memecahkan masalah, memuat subjek, mata pelajaran, waktu dan tempat penelitian serta harus dibuat secara singkat dan jelas agar tidak menimbulkan penafsiran yang beragam.
LangkahPTK 1. Identifikasi Masalah dan Merumuskan Masalah 2. Analisis Masalah 3. Merumuskan hipotesis tindakan 4. Penyusunan Rencana Tindakan Apa yang diperlukan untuk menentukan pemecahan masalah yang telah dirumuskan Alat atau teknik apa yang diperlukan sebagai pengumpul data Rencana perekaman data Rencana pengolahan data
Penentuanrumusan masalah dalam penelitian dijadikan sevagai acuan dalam menentukan analisis serta teknik analisis dalam mengolah datanya, sehingga memudahkan peneliti dalam mengambil instrumen penelitian variabel yang akan diuji dalam penelitian nantinya. Contoh Rumusan Masalah PTK.
Contohcontoh dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar. Penggunaan Model Pembelajaran Examples Non Examples ini lebih menekankan pada konteks analisis siswa. Biasa yang lebih dominan digunakan di kelas tinggi, namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menenkankan aspek psikologis dan tingkat
1 Perumusan masalah. Dalam penelitian ini yang menjadi masalah utama adalah : kurang minatnya siswa kelas X SMAN 1 Kroya dalam mengikuti proses pembelajaran seni rupa. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : "apakah menggunakan mind map drawing sebagai model pembelajaran apresiasi seni rupa dapat meningkatkan minat belajar siswa
aUTya. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah merupakan langkah awal yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan PTK. Dalam mengidentifikasi masalah, guru harus melakukan refleksi terhadap kondisi, proses, dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Melalui kegiatan refleksi guru dapat mengidentifikasi berbagai masalah dalam pembelajaran dan memecahkan masalah tersebut. Agar mudah dalam melakukan identifikasi masalah pembelajaran, guru dapat menggunakan pertanyaan pemandu, seperti berikut Masalah apa yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran di kelas yang mendesak untuk dipecahkan? Apakah siswa telah menguasai kompetensi dasar yang diajarkan? Apakah siswa telah menguasai keterampilan yang diharapkan dalam pembelajaran? Apakah siswa telah memahami materi yang diajarkan secara tuntas? Apakah tugas-tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan dengan baik? Apakah siswa aktif dalam proses pembelajaran? Apakah interaksi kelas berlangsung secara kondusif? Apakah soal-soal tes dikerjakan dengan baik oleh seluruh siswa. Apakah siswa secara tertib mengikuti pelajaran di kelas? Apakah aktivitas diskusi dapat terselenggara dengan baik? Apakah aktivitas pembelajaran menarik minat siswa? Apakah siswa memperhatikan secara baik dalam proses pembelajaran? Dalam praktik nyata kegiatan pembelajaran di kelas, guru sering menghadapi berbagai masalah atau kasus. Kasus-kasus tersebut diantaranya adalah Proses belajar terganggu Kelancaran belajar kurang optimal Tugas siswa tidak terselesaikan Siswa pasif di kelas Siswa ramai di kelas, bahkan sering membolos Hasil tes siswa jelek Motivasi belajar rendah Analisis Penyebab Terjadinya Masalah Dalam kegiatan pembelajaran, siswa berperan sebagai subjek belajar. Sebagai subjek belajar, siswa memerlukan bimbingan dan arahan dari pengajar agar mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik. Jika dalam pelaksanaan pembelajaran, siswa mengalami kesulitan atau kendala dalam mencapai target pembelajaran, dapat dipastikan ada kesenjangan atau faktor penyebab yang membuat pembelajaran itu tidak berjalan dengan baik. Untuk menyelesaikan dan mengatasi masalah pembelajaran, perlu dilakukan analisis faktor penyebab terjadinya masalah. Faktor penyebab masalah pembelajaran harus ditemukan dan diminimalkan. Untuk menemukan faktor penyebab masalah pembelajaran, dapat digunakan pertanyaan pemandu. Pertanyaan pemandu dapat dicontohkan sebagai berikut Mengapa masalah tersebut terjadi? 1. Apakah masalah tersebut disebabkan oleh media atau perangkat pembelajaran yang kurang tepat? Apakah bahan pembelajaran yang dipilih tidak sesuai dengan minat siswa? Apakah metode yang digunakan dalam pembelajaran tidak menarik minat siswa? Apakah model pembelajaran yang digunakan monoton? Apakah interaksi kelas kurang menyenangkan? Apakah guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih? Apakah tugas-tugas yang diberikan guru kurang menantang proses berfikir siswa? Apakah guru juga menggunakan materi lain selain materi pembelajaran yang ada dalam buku paket? Apakah guru juga memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar? Apakah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kerja kelompok? Apakah guru memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar? Apakah guru memberikan bimbingan atau tutorial pada setiap individu siswa? Apakah guru pernah mengajak siswa untuk mengadakan pengamatan langsung pada objek atau benda-benda yang ada disekitar kelas? Sejumlah pertanyaan tersebut dapat digunakan oleh guru untuk menemukan penyebab masalah pembelajaran di kelas, sehingga guru dapat melakukan refleksi atas proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Dalam melakukan refleksi, guru tidak boleh menghakimi atau menyalahkan siswa. Karena jika menyalahkan sikap atau kompetensi siswa, maka analisis penyebab masalah tidak akan menemukan jawaban untuk penyelesaian masalah. Sebaiknya guru dalam kegiatan analisis penyebab masalah ini lebih fokus pada kekurangan atau kelemahan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga guru dapat menemukan pola dan strategi pembelajaran yang lebih baik dari yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga dapat memperbaiki kualitas dan mutu pembelajaran.
Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui dimensi-dimensi penting yang ada dalam masalah itu dan untuk memberikan penekanan secara lebih jelas. Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, tergantung kepada tingkat kesulitan yang ditunjukkan dalam perumusan masalah. Di antara analisis masalah yang dapat dilakukan adalah analisis sebab-akibat tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat, kajian terhadap data penelitian yang tersedia. atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah cara pandang individu yang terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan analisis masalah ini dapat dilakukan melalui diskusi dengan teman sejawat, dengan fasilitator peneliti dari perguruan tinggi kependidikan, dan juga kajian pustaka yang mempertajam hasil analisis masalah, guru sebagai peneliti dapat berusaha menjawab sebagian pertanyaan di bawah ini yang dipandang relevan dengan prosedur tindakan yang tepat. Dalam menimbang-nimbang berbagai prosedur ini sebaiknya guru sebagai peneliti mencari masukan dari berbagai pihak agar wawasannya tidak ini disajikan hasil analisis masalah yang dilanjutkan dengan perumusan hipotesis tindakan. Di Kelas VII SMP Majapahit, siswa-siswanya sangat lamban untuk memahami teks. Berdasarkan analisis masalah yang dilakukan, guru sebagai peneliti berkesimpulan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki kebiasaan membaca yang salah dalam memahami makna bacaannya, dan bahwa kesiapan pengalaman siswa untuk memahami konteks perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu, hipotesis tindakannya adalah sebagai berikut "Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan lewat teknik-teknik perbaikan yang tepat dan kesiapan pengalaman untuk memahami konteks bacaan ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat kecepatan membacanya". Apabila setelah dilaksanakan tindakan yang direncanakan dan telah diamati, hipotesis tindakan ini ternyata meleset dalam arti pengaruh tindakannya belum seperti yang diinginkan, peneliti harus merumuskan hipotesis tindakan yang baru untuk putaran penelitian tindakan berikutnya. Dengan demikian, dalam suatu siklus spiral penelitian tindakan kelas, guru merumuskan hipotesis tindakan, dan pada siklus berikutnya merumuskan hipotesis yang lain, dan pada siklus berikutnya lagi merumuskan hipotesis yang lain lagi; dan begitulah seterusnya, sampai tindakan yang dilakukan dapat berdampak kepada peningkatan kualitas kemampuan membaca cepat pada siswa Kelas VII SMP Majapahit contoh tersebut di atas, berikut ini juga disajikan beberapa contoh hipotesis tindakan suatu kegiatan penelitian tindakan Guru tidak mungkin bergeser dari situasi formal kalau mereka menggunakan pendekatan terstruktur jangka pendek. Pengertian pendekatan terstruktur jangka pendek adalah pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dalam waktu yang singkat. Penggunaan terstruktur jangka pendek cenderung menceburkan guru ke dalam salah satu di antara dua dilema yang mungkin timbul. Pertama, ada kemungkinan bahwa siswa menggunakan alur penalaran yang berbeda dengan alur penalaran yang diinginkan oleh guru. Misalnya, guru telah menentukan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Karena ada perbedaan alur penalaran antara guru dan siswa, maka terpaksa pencapaian tujuan itu ditempuh dalam waktu yang lebih lama, atau dia harus mengendalikan penalarannya. Jika cara yang pertama yang dipilih, dia memerlukan waktu yang lebih lama, padahal waktu yang ditentukan jelas terbatas. Jika cara kedua yang dipilih, ketergantungan proses berpikir siswa kepada guru pasti semakin bertambah sehingga proses kemandirian dan kreativitas berpikir siswa justru menjadi siswa mungkin sama sekali tidak banyak dapat melakukan penalaran Sebab, untuk bisa mencapai tujuan dalam waktu yang telah ditentukan, sangat boleh jadi guru membimbing siswa ke arah pencapaian tujuan itu dengan memberinya terlalu banyak petunjuk. Dalam situasi semacam itu, kemungkinan besar siswa banyak menebak ke arah mana jawaban yang diinginkan oleh guru karena mereka tidak ingin terlalu menyimpang dari jawaban yang diinginkan oleh guru. Akibatnya, siswa justru bisa kehilangan kemandirian dalam melakukan penalarannya dan yang semakin berkembang justru ketergantungan siswa yang semakin tinggi kepada gurub. Untuk menghilangkan tebak-menebak dan bergeser dari situasi formal ke situasi informal, guru mungkin harus menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal Mengubah topikGuru mengubah topik yang sedang dibicarakan, dapat menghambat siswa dalam mengungkapkan dan mengembangkan gagasan-gagasannya sendiri karena siswa cenderung menafsirkan perubahan tersebut sebagai usaha untuk mendapatkan kesesuaian dengan alur penalaran tertentu yang dikembangkan oleh gurunya. 2 Penguatan positifUngkapan tanggapan positif yang terlalu mantap, dengan menggunakan kata kata "bagus, wah sangat menarik itu, atau betul sekali kamu" sebagai tanggapan terhadap gagasan tertentu yang diungkapkan siswa dapat menghalangi pengungkapan dan pembahasan gagasan-gagasan yang lain karena siswa cenderung menafsirkan kata-kata penguatan yang diberikan oleh guru itu sebagai isyarat bahwa jawaban siswa itu merupakan satu-satunya jawaban yang benar. Akibatnya, karena siswa terlalu merasa puas terhadap jawabannya itu sehingga kurang mau mengembangkan lagi gagasan-gagasan yang lain. 3 Pengajuan pertanyaan kritis secara selektifGuru yang mengajukan pertanyaan secara kritis kepada siswa-siswa tertentu saja dan bukan kepada semua siswa dapat menghalangi kelompok siswa tersebut untuk mengembangkan gagasan-gagasannya karena pertanyaan demikian cenderung bisa ditafsirkan sebagai evaluasi negatif terhadap gagasan gagasan yang Pertanyaan dan pernyataan yang mengarahPertanyaan dan pemyataan yang mengandung informasi tentang jawaban yang diinginkan guru dapat menghalangi siswa untuk mengembangkan gagasan gagasannya sendiri karena mereka cenderung menafsirkan tindakan demikian sebagai usaha menghambat atau membatasi arah pemikiran meraka. 5 Mengundang kesepakatan bulatGura menanggapi gagasan-gagasan siswa dengan pertanyaan seperti "apakah kalian semua setuju?" atau "Apakah ada yang tidak setuju?" cenderung menghalangi pengungkapan keragaman pikiran atau pendapat siswa. 6Urutan pertanyaan jawabanGuru yang selalu mengajukan pertanyaan setelah mendengar jawaban siswa terhadap pertanyaan sebelumnya dapat menghalangi siswa untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka sendiri karena siswa mungkin menafsirkan pola demikian sebagai usaha untuk mengendalikan masukan dan urutan Mengendalikan informasi faktualGuru yang menyampaikan informasi faktual secara pribadi, secara tulisan atau lisan, dapat menghalangi siswa untuk mengevaluasinya karena siswa cenderung menafsirkan intervensi demikian sebagai usaha untuk membuat mereka menerima kebenaran. 8 Tidak meminta evaluasiGuru yang tidak meminta siswanya untuk mengevaluasi informasi yang mereka pelajan dapat menghalangi mereka untuk mampu mengajukan kritik secara baik karena siswa cenderung menafsirakn situasi tersebut sebagai hal yang melarang adanya kritikc. Guru yang menggunakan pendekatan terstruktur jangka panjang dalam konteks dimana siswa secara psikologis bergantung kepada guru lebih kemungkinannya untuk bergeser dari situasi formal dibanding dengan guru yang menggunakan pendekatan tak siswa secara psikologis tampak sangat bergantung kepada guru, maka guru dapat mengurangi ketergantungan tersebut dengan jalan meyakinkan bahwa mereka tidak akan bisa memperoleh jawaban dari guru. Pertanda apapun yang menunjukkan digunakannya pendekatan terstruktur, meskipun dalam jangka panjang, mendorong mereka untuk menghabiskan tenaganya untuk mendapatkan jawaban dari gurunya. Tentu saja, guru dapat berusaha meyakinkan siswanya bahwa tidak memiliki jawaban yang diinginkan, tetapi mungkin cara yang baik adalah mengusahakan mencapai tujuan-tujuan yang tak terstruktur sehingga siswa lebih leluasa dalam mengembangkan gagasan-gagasan mereka untuk sampai pada jawaban yang diinginkan. d. Agar dapat menggunakan pendekatan tak terstruktur dan bergeser dari situasi formal, mungkin untuk sementara guru perlu menggunakan metode terbuka daripada terbimbingBimbingan dalam pendekatan terstruktur berbeda dari bimbingan dalam pendekatan tak terstruktur. Ciri perbedaan itu dapat ditemukan dalam bahasa yang digunakan untuk bertanya. Di dalam pendekatan terstruktur, pertanyaan guru cenderung terfokus pada bahan pembicaraan, sedangkan dalam pendekatan tak terstruktur pertanyaan guru cenderung terfokus pada siswanya. Artinya, dalam pendekatan terstruktur, pembicaraan dipusatkan pada hal-hal di luar diri siswa sehingga terasa kurang bermakna. Sebaliknya, dalam pendekatan tak terstruktur pembicaraan dikaitkan dengan pengalaman siswa sehingga bahan yang fokus dibicarakan tampak seperti bagian dari diri siswa sehingga lebih terasa bermakna bagi Dalam konteks siswa mengembangkan kepercayaan terhadap kekuatan penalaran mereka sendiri guru dapat mengubah metode tak terstruktur terbuka kepada metode terstruktur-terbimbing berorientasi pada siswa dengan menghindarkan dari kendala bagi terjadinya pembelajaran siswa tidak merasakan adanya kebutuhan yang besar untuk bergantung kepada gurunya, maka akan lebih kecil kemungkinannya siswa salah dalam menafsirkan bimbingan yang berorientasikan kepada siswa sebagai pertanda yang bersifat tersembunyi tentang jawaban yang diinginkan Dalam konteks siswa mengembangkan kepercayaan terhadap kekuatanpenalaran mereka sendiri, guru dapat menggunakan pendekatan terstruktur jangka panjang Begitu siswa dapat menghargai dan lebih yakin terhadap arah pembelajarannya sendiri, mereka kurang tertarik untuk memandang jawaban dari gurunya. Bahkan, meskipun mereka menyadari bahwa guru menginginkan jawaban tertentu, mereka berusaha untuk memikirkan sendiri jawaban-jawaban itu asal gurunya tidak menghalangi mereka melakukan proses pemikiran itu dengan cara memotong proses penalaran mereka karena ingin memberikan jawaban ini ada sejumlah pertanyaan penting yang dirumuskan oleh Kemmis dan Me Taggar, yang dapat membimbing guru sebagai peneliti untuk menganalisis masalah secara lebih cermat dan Apa hubungan antara individu dan kelompok dalam situasi ini? b. Apa yang diungkap oleh situasi ini tentang hubungan antara jati din individual dan budayanya?c. Bagaimana situasi ini mengungkapkan hubungan antara nilai-nilai orang dan kepentingan diri mereka?d. Sejauh mana situasi ini dibentuk oleh kondisi objektif, dan sejauh mana situasi dibentuk oleh kondisi subjektif seperti harapan dan cara memahami dunia pada orang-orang yang terlibat dalam penelitian? e. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara pertentangan dan perlembagaan? f. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara kapasitas kemauan manusia dengan struktur kerangka kerja yang membentuk dan membatasi kapasitas untuk melaksanakan kemauan itu?g. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara teori dan praktik? h. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara proses dan produk? i. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara pendidikan dan masyarakat? j. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara reproduksi dan trarasformusi? k. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara stabilitas atau kesinambungan dengan perubahan atau keputusan sejarah? l. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara keadaan dan konsekuensi, atau tentang hubungan antara tujuan dan pencapaian?Tentu saja guru sebagai peneliti tidak mungkin dapat menjawab semua pertanyaan di atas atau menjawab semua pertanyaan secara menyeluruh. Namun, daftar pertanyaan itu dapat membantu peneliti dalam memahami situasi yang ada bersama gejala-gejala yang perlu diteliti. Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin akan membuat peneliti merasa masih kurang mengenai pengetahuan tentang situasi yang akan diteliti sehingga mampu melihat kekurangan pada dirinya. Kemampuan untuk melihat kekurangan yang ada pada dirinya adalah salah satu persyaratan bagi keberhasilan penelitian tindakan. termasuk penelitian tindakan Mohammad Asrori, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, 2016, wacana prima h. 93
Menganalisis Dan Merumuskan Masalah PTKSetelah masalah teridentifikasi, kita perlu melakukan analisis sehingga dapat merumuskan masalah dengan jelas. Tentu saja sebelum menganalisis masalah, kita mengumpulkan data yang terkait dengan masalah tersebut, seperti yang terdapat pada langkah dari Mills 2000. Tanpa melakukan analisis, mungkin masalah yang kita identifikasi masih kabur. Analisis dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri atau yang disebut refleksi, dan dapat pula dengan mengkaji ulang berbagai dokumen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai, atau bahkan mungkin bahan pelajaran yang kita siapkan. Semua ini tergantung dari jenis masalah yang kita identifikasi. Misalnya, jika masalah yang kita identifikasi adalah rendahnya motivasi belajar siswa, barangkali yang perlu kita analisis adalah dokumen tentang hasil belajar siswa, catatan harian kita tentang respons siswa dalam pembelajaran, dan yang tak kalah pentingnya melakukan refleksi, sehingga kita mendapat gambaran yang jelas tentang perilaku mengajar kita. Untuk memperjelas langkah analisis ini, coba kaji ilustrasi Tuti adalah seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMU. Setiap mengajar, ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Perhatian para siswa terhadap bahasa Indonesia tampaknya tidak menggembirakan. Siswa lebih menganggap bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran yang diwajibkan dan hanya merupakan tugas rutin untuk mengikutinya. Ibu Tuti merasa siswa menganggap enteng pelajarannya. Setelah berulang kali merenung, Ibu Tuti menyimpulkan bahwa motivasi para siswa untuk belajar bahasa Indonesia sangat rendah. Ini terbukti dari seringnya siswa absen dalam pelajarannya dan nilai rata-rata kelas untuk Bahasa Indonesia hanya 5,4. Ibu Tuti menjadi bingung untuk mengatasi masalah Anda yang menjadi Ibu Tuti, bagaimana cara Anda mengatasi masalah tersebut? Tindakan pertama yang perlu Anda lakukan adalah menganalisis masalah yang telah diidentifikasi oleh Ibu Tuti, yaitu rendahnya motivasi para siswa untuk belajar bahasa Indonesia. Untuk menganalisis masalah ini, Ibu Tuti perlu melakukan hal-hal Menganalisis daftar hadir siswa, kemudian menyimpulkan berapa % rata-rata kehadiran siswa dalam satu bulan. Di samping itu, perlu pula dianalisis, apakah yang absen hanya siswa tertentu ataukah hampir semua pernah absen, dan apa Menganalisis daftar nilai siswa, kemudian mengaitkan frekuensi ketidakhadiran siswa dengan nilainya. 3. Menganalisis tugas-tugas yang diberikan kepada siswa beserta bahan pelajaran yang dipakai, apakah tugas dan bahan pelajaran tersebut cukup menantang atau Menganalisis balikan feedback yang diberikan guru terhadap pekerjaan siswa. Apakah balikan tersebut membuat siswa frustrasi atau mendorong siswa untuk memperbaiki Melakukan refleksi terhadap perilaku mengajar Ibu Tuti. Seyogianya Ibu Tuti secara jujur merenungkan kembali kebiasaannya di dalam kelas. Apakah dia sering marah-marah, bersikap tidak simpatik, atau sebaliknyaDari hasil analisis di atas, Ibu Tuti dapat mempertajam masalah yang dihadapi serta menetapkan masalah mana yang paling mendesak untuk dibenahi. Misalnya, dari hasil analisis tersebut Ibu Tuti menemukan bahwa hanya siswa tertentu sekitar 20 orang dari 35 siswa yang sering absen, dan memang temyata siswa yang sering tidak hadir nilainya rendah. Dari analisis tugas, bahan pelajaran, dan balikan, lbu Tuti menemukan bahwa tugas yang diberikan yang diambil dari buku paket memang membosankan karena hanya menuntut siswa untuk menghapal, tanpa pernah meminta siswa untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas dalam bahasa tulis. Balikan yang diberikan oleh Ibu Tuti pada tugas-tugas tersebut, ternyata hanya dua kata yaitu cukup dan kurang. Dari refleksi yang dilakukan, Ibu Tuti merasa bersikap biasa-biasa saja, hanya dia merasa jarang memberikan penguatan. Ia lebih banyak menegur siswa yang kurang berhasil daripada memuji siswa yang uraian di atas dapat Anda simak bahwa begitu banyak masalah yang ditemukan Ibu Tuti yang dianggapnya menyebabkan rendahnya motivasi siswa dalam belajar bahasa Indonesia. Di samping masalah yang sudah dianalisis, Ibu Tuti juga memperkirakan bahwa Ebtanas Bahasa Indonesia juga tidak mendorong siswa untuk belajar lebih baik. Namun, in kemudian berkesimpulan bahwa ia harus memilih masalah yang dapat ia atasi sendiri. Ia kemudian memutuskan bahwa ia akan memfokuskan usahanya pada perbaikan tugas dan bahan ajar yang ia gunakan. Berkaitan dengan hal ini, Ibu Tuti dapat merumuskan masalah sebagai dan bahan belajar yang bagaimana yang dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa Indonesia?Sebagaimana yang Anda simak dalam rumusan masalah tersebut, sebuah masalah pada umumnya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, yang menggambarkan sesuatu yang ingin dipecahkan atau dicari jawabannya melalui penelitian, dalam hal ini penelitian tindakan kelas PTK. Masalah yang dihadapi guru mungkin sangat luas, oleh karena itu, guru perlu memfokuskan perhatiannya pada masalah yang mungkin dapat dia tanggulangi dan yang memang memerlukan prioritas untuk ditangani. Dalam hal ini, Anda perlu mengingat kembali rambu-rambu pemilihan masalah yang dapat dijadikan fokus PTK atau yang dapat dipecahkan melalui PTK Selanjutnya, masalah perlu dijabarkan atau dirinci secara operasional agar remcana parhaikannya dapat lebih terarah. Misalnya, masalah tugas dan bahan belajar yang bagaimana yang dapat meningkatkan motivasi siswa dapat dijabarkan sebagai Bagaimana frekuensi pemberian tugas yang dapat meningkatkan motivasi siswa?2 Bagaimana bentuk dan materi tugas yang memotivasi? 3. Bagaimana syarat bahan belajar yang menarik?4. Bagaimana kaitan materi bahan belajar dengan tugas yang diberikanDengan dirumuskannya masalah secara operasional, Anda sudah mula membuat rencana perbaikan atau rencana PTK. Mari kita kaji rencana Merebut lebih IGAK Wardhani dan kuswaya wihardit, penelitian tindakan kelas, 2011, cet 11, universitas terbuka, hal...